
Anak Membaca Keadilan Iklim Refleksi atas Banjir Rob Sebagai Dampak Perubahan Iklim
Anggi Kurniawati
Aula Abdul ‘Alim
Endita Cahyani Nuhadi Putri
Carissa Agatha Cristiani
Isyana Jasmine
Tebal : viii + 157 Hlm
Ukuran : 14,8 x 21 Cm
Stock : 300 Exp
Versi Cetak : Tersedia
ISBN : Dalam Proses
Harga : Rp 150.000
Anak Membaca Keadilan Iklim: Refleksi atas Banjir Rob sebagai Dampak Perubahan Iklim menghimpun pengalaman para siswa dan guru pendamping yang mengikuti ekspedisi dua hari ke Desa Timbulsloko, sebuah desa pesisir di Demak yang pelan-pelan tenggelam oleh banjir rob. Melalui cerita-cerita yang ada dalam buku ini, para peserta menuliskan apa yang mereka lihat dan rasakan ketika menyaksikan bagaimana perubahan iklim mengubah kehidupan sehari-hari warga Timbulsloko. Buku ini memperlihatkan bagaimana krisis iklim yang sering dibahas dalam ruang kelas ternyata memiliki wajah yang sangat nyata: rumah-rumah yang lantainya terus ditinggikan, perabot yang selalu terancam rusak dan tenggelam, dan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tak pernah sepenuhnya kering.
Setiap kisah dalam buku ini membawa pembaca masuk ke ruang-ruang kecil kehidupan warga Timbulsloko yang kini dikepung air asin. Para siswa menceritakan bagaimana suara “kresak-kresek” air yang masuk perlahan di malam hari membuat banyak keluarga tak bisa tidur nyenyak; bagaimana jembatan kayu yang licin menjadi satu-satunya jalan menuju sekolah; dan bagaimana sawah serta tambak yang dulu menjadi tumpuan ekonomi desa hilang begitu saja di bawah permukaan air. Dalam situasi semacam ini, berbagai hak dasar anak untuk hidup aman, bermain bebas, belajar tanpa hambatan, tampak rapuh dan mudah sekali tergerus.
Melalui pertemuan dengan warga, mereka belajar bahwa ketidakadilan iklim bukan hanya tentang bencana alam, tetapi juga tentang kehilangan yang tak selalu bisa dihitung dengan angka. Ada orang tua yang harus terus-menerus memperbaiki rumah, hanya agar tetap bisa dihuni. Ada keluarga yang menolak pindah karena makam leluhur tak mungkin ikut direlokasi. Dan ada pula anak-anak yang tetap berlari dan tertawa di tengah genangan, seakan-akan air yang naik adalah bagian biasa dari hidup mereka. Cerita-cerita yang lahir dari percakapan ini menyimpan campuran perasaan: sedih, marah, heran, tapi juga kagum pada kekuatan warga bertahan menghadapi perubahan yang tak mereka sebabkan.
Walau banyak kisah muram di dalamnya, buku ini tidak berhenti pada rasa putus asa. Ia juga memperlihatkan bagaimana daya tahan sebuah komunitas bekerja dalam keseharian: kerja bakti memperbaiki jalan papan, ronda malam untuk memantau air pasang, dan upaya menjaga rumpun mangrove agar tetap hidup. Para siswa menyadari bahwa keberanian untuk bertahan dan merawat tempat tinggal adalah bentuk perlawanan yang sangat sederhana, tetapi tidak pernah mudah.
Pada akhirnya, cerita-cerita dalam buku ini adalah undangan untuk melihat krisis iklim dari jarak yang lebih dekat. Melalui mata para siswa dan guru pendamping, kita diajak memahami bahwa perubahan iklim tidak berdampak sama bagi semua orang, dan bahwa suara anak-anak dapat menjadi jembatan penting untuk berbicara tentang keadilan dan masa depan. Buku ini adalah pengingat bahwa upaya menghadapi krisis iklim harus dimulai dari empati serta keberanian untuk benar-benar mendengarkan cerita orang lain.





Reviews
There are no reviews yet.